Sarwono sempat mengatakan mereka duduk makan seperti di bulan Ramadhan, yang berarti Juni itu mereka belum puasa. Jadi kemungkinan enggak jauh-jauh amat di belakang tahun 2017. Namun yang bikin mindblown adalah tahun yang tertera di buku puisi Sarwono adalah 1991. Puisi tak lekang waktu, dan Sarwono mengatakan pusinya ada di dunia sendiri. Kita harus punya sifat tabah, bijak, dan arif seperti “Hujan Bulan Juni” ini. 4. results (hasil) Hasil dari puisi “Hujan Bulan Juni” Pak Sapardi ini merupakan wujud dari berbagai peluang di atas. Ya, puisi “Hujan Bulan Juni” ini dapat menghasilkan lagu yang berjudul sama yang dinyanyikan oleh Ghaitsa Kenang, selain itu puisi Tidak ada yang lebih membuat lara. Dari hujan bulan Juli. Dihapusnya retak-retak kebisuan angin malam. Bersenandung di antara nyanyian duka. Tidak ada yang lebih indah. Dari hujan bulan Juli. Dibiarkannya getar-getar aksara. Terangkai merdu bersama air mata. Tidak ada yang lebih suka cita. Tak ada buku puisi, versi novelnya pun jadi. Aku pikir pasti ada hubungannya dengan karya-karya sebelumnya. Aku sadari bahwa ternyata aku membaca novel ini dari cetakan ke-17 setelah novel ini kubaca lewat dari setengahnya. Waw sekali. Dari Juni 2015-Juni 2019 sudah 17 kali cetak. Novel ini judulnya Hujan Bulan Juni. SEBUAH sin yang epik dari sekumpulan puisi ’hujan bulan Juni’ ditulisnya dari tahun 1964 sampai 1994. Dia, maestro itu Sapardi Djoko Damono menggubah peristiwa-peristiwa menjadi sastra yang indah penuh getar. Di pagi ini, Juni di Ahad yang penuh butiran hujan saya mengutipnya satu dari buku kumpulan puisinya, puisi ini ’walyatalataf’Continue Reading Resensi Novel Hujan Bulan Juni: Cerita Cinta yang Menyentuh Hati. Hujan Bulan Juni adalah novel karya Sapardi Djoko Damono yang diterbitkan pada tahun 2004. Novel ini telah menjadi fenomena dalam dunia sastra Indonesia dan mendapatkan banyak penghargaan, termasuk Penghargaan Sastra Pena Kencana pada tahun 2005. .

resensi buku puisi hujan bulan juni